song

Friday, 26 May 2017

Derhaka seorang bunda


Kau bunuh jiwa anak-anakmu,
Hanya untuk memuaskan hatimu,
Dengan rakus,
Jiwa-jiwa itu mati tanpa nisan.

Kau persoalankan sikap,
Kau tanyakan kenapa?
Pernah kau sedar,
Bahawa engkaulah punca,
Jasad tanpa jiwa berlegar-legar,
Dalam kehidupan mu sendiri,

Anak itu penat,
Penat dengan olahmu yang itu dan ini,
Anak itu sendiri bila acap kali,
Semua salah itu kau longgok dipundaknya,
Anak itu ingin mati jasad dan jiwa,
Agar kau puas dengan apa yang kau mahu,

Biarlah kali ini dia berdoa,
Wahai tuhan lenyapkan semua duka,

Bawa aku ke bumi bahagia.

Sunday, 14 May 2017

bonda

puing-puing indah,
sedang bergilir,
bernyanyi indah,
ditepi cuping telinga ini,

Bonda,
akulah anak paling enaknya,
si keras batu,
yang hanya tahu,
jiwa dan hatiku,
harus dipenuhi,

Bonda,
Mungkin akulah,
yang paling sering,
membuat malammu,
ditemani sang air mata,

tapi,
bonda,
mungkin ini kali terakhir,
bibir ini bisa berkata,
akulah,
manusia yang paling mencintaimu.

warna alamku

coklat gagah,
hitam manis,
kuning langsat,
memenuhi bumi ini,

di sana si kuning langsat,
riang dengan naga merahnya,
si hitam manis  pula,
dengan bangganya bersari,

coklat gagah,
terus dengan sawahnya,
lihatlah alam,
kita cuma dibezakan dengan warna,

bumi ini milik kita,
hanya warna berbeza,
pada setiap pakaian,
tapi punya jiwa,
pada hati yang sama.

di sini kita,
berlainan warna tapi punya hati yang sama.

sesat

wahai pemilik langit,
terasa kosong,
bagai punya lohong,
sepi dan sunyi,
dalam jiwa paling dalam ini,

wahai pemilik langit,
saat pena melakar-lakar,
aku sebenarnya,
tidak tahu,
apa aku ingin,

wahai pemilik langit,
apa aku sang musafir sesat,
yang hilang peta,
kompas pula hanyut di laut,

wahai pemilik langit,
akulah pengembara sesat,
dalam dunia ku sendiri.

Saturday, 13 May 2017

sang setia

Di tepian itu,
aku melihat saujana begitu indah,
bagaikan hati yang sedang meriang,
selapang jiwa,
yang bebasnya di langit merekah.

Aku,
melihat alam,
bukan satu objek lagi,
yang tujuan hanya untuk dikuasai,
dan menguasai,
tapi sebuah subjek,
yang menjadi talian,
kepada setiap yang aku temui.

Langit,
perjalanan hidup ini masih jauh,
tapi suka hati ini,
untuk mengadu di setiap hentianku,

langit,
tetaplah setia denganku,
kerna aku kosong,
bila kau juga merajuk.